Sekretariat:JL. MASJID BAITUL MU'MIN Dusun Tinggarjati Lor-Gentasari-Kroya-Cilacap-JATENG 53282 Hp. 085747162244

Jumat, 27 Januari 2012

Keunikan Nahdlatul Ulama (NU)

Ragam Istilah & Kekhasan Nahdliyyin Yang Mungkin Antum Belum Tahu ?

Apa kaitan NU dan Islam di Indonesia? Buka saja perkembangan sejarah Islam di Indonesia, tentu pertanyaan ini segera terjawab . Dan malah tidak hanya satu jawaban. Melainkan banyak. Bahkan, menurut cerita, saking lekatnya NU dengan Islam Indonesia ini, banyak orang sepuh (Orang yang telah lanjut usia) salah sebut ketika ditanya, ” Mbah agamanya Simbah apa ?”. Simbah menjawab, ” NO (Nahdlatul Oelama)”. NO adalah sebutan untuk NU jaman dahulu.

Lalu sejak kapan sebenarnya NU ada? Dalam buku Antologi NU disebutkan, Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) telah ada atau lahir pada tanggal 31 Januari 1926 M atau 16 Rajab 1344 H di Surabaya. Latar belakang pendirian NU berkait erat dengan perkembangan pemikiran keagamaan dan politik dunia Islam kala itu. Pada tahun 1924, Syarif Husein, Raja Hijaz (Makkah) yang berpaham Sunni ditaklukkan oleh Abdul Aziz bin Saud yang beraliran Wahabi.

Dari penaklukan ini, tersebarlah berita penguasa baru itu akan melarang semua bentuk amaliah keagamaan kaum Sunni, dan diganti total dengan paham Wahabi. Pengamalan agama dengan system bermadzhab, tawashul, ziarah kubur, Maulid Nabi dan lain sebaginya, dikabarkan akan segera dilarang. Tidak hanya itu, Raja Ibnu Saud juga berencana melebarkan pengaruh kekuasannya ke seluruh dunia Islam.

Membahas rencana ini, Raja Saud bermaksud mengadakan muktamar dan mengundang seluruh Negara Islam dunia untuk menghadiri muktamar tersebut, termasuk Indonesia. Mulanya, utusan dari Indonesia yang direkomendasikan adalah HOS Cokroaminoto ( perwakilan Sarekat Islam), KH. Mas Mansur (perwakilan Muhammadiyah) dan KH. Abdul Wahab Hasbullah (perwakilan Pesantren). Namun rupanya ada permainan licik diantara kelompok yang mengusung para calon utusan Indonesia. Dengan alasan Kyai Wahab tidak mewakili organisasi resmi, maka namanya dicoret dari daftar calon utusan.

Pencoretan Kyai Wahab ini sontak menyadarkan para Kyai Pesantren tentang pentingnya sebuah organisasi. Kemudian lahirlah NU. Dan sejak saat itu NU terus berkembang. Sifat NU yang moderat membuatnya mudah diterima oleh banyak orang di Indonesia. Alhasil, organisasi keagamaan ini menjadi yang terbesar di Indonesia.

Layaknya sebuah pepatah, ” Lain padang lain Ilalang”. Begitu pula NU. Setiap organisasi memiliki kekhasan masing-masing. Dengan tetap memegang teguh ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah, organisasi yang lahir dari rahim para Kyai ini, memiliki ragam istilah khas. Dalam kesempatan ini, El Waha hanya akan menyebutkan 18 “keunikan” NU.  penasaran?. Simak yang dibawah ini :

1. Syuriah dan Tanfidziyah
Adalah pimpinan tertinggi dalam jami’iyah Nahdlatul Ulama. Terdiri dari para ulama piliihan. Syuriah berfungsi sebagai pembina, pengendali, pengawas dan penentu kebijaksanaan NU. Sedangkan Tanfidziyah adalah pelaksana kebijakan Syuriah.

2. Bathsul Masail
Bathsul Masail berarti pengkajian terhadap masalah-masalah agama. Dalam struktur organisasinya NU memiliki sebuah forum pengkajian hukum untuk membahas berbagai masalah keagamaan. Forum ini lazim disebut Lembaga Bathsul Masail (LBM). LBM adalah forum diskusi alim ulama (syuriah) dalam menetapkan hukum suatu masalah yang keputusannya merupakan fatwa dan berfungsi sebagai warga NU dalam mengamalkan agama sesuai dengan paham Ahlussunah Wal Jama’ah.
Pada umumnya rujukan utama yang diambil mengikuti pendapat Imam Syafi’I, karena madzhab ini paling banyak diikuti kaum muslimin dan lebih sesuai dengan kondisi sosial, budaya dan geografis Indonesia. Namun, bila pendapat Imam Syafi’I tidak tersedia, maka pendapat ulama yang lain yang diambil, sejauh masih dalam lingkungan madzhab empat.

Dalam menghadapi masalah kekinian yang bersifat baru. Belum pernah terjadi dimasa lalu. Untuk menjatuhkan hukum, LBM selalu meminta penjelasan terlebih dahulu kepada para ahlinya. Seperti kasus praktek jual beli emas berantai gaya Gold Quest. LBM mengundang kepala perwakilan Gold Quest wilayah Asia. Setelah mendengar penjelasan seluk-beluk bisnis Gold Quest secara terbuka didepan para ulama. Kasusnya telah jelas. Barulah dikaji lewat kitab kuning.

3. Halaqah
Adalah nama jenis forum pertemuan. Berasal dari Bahasa Arab yang berarti lingkaran. Semula nama halaqah dipakai dalam pertemuan-pertemuan yang bentuknya melingkar, seperti ketika orang mengadakan di Masjid. Namun dalam perkembangannya halaqah dijadikan nama forum resmi seperti seminar, workshop, semiloka, lokakarya, dan lain sebagainya.

4. Banser
Singkatan dari Barisan Ansor Serbaguna. Salah satu kekuatan inti Gerakan Pemuda Ansor yang identik dengan kelaskaran. Berdiri pada tahun 1964 di Kota Blitar, Jawa Timur. Penggagas nama Banser ini adalah Muhammad Zainuddin Kayubi, Ketua Korda GP Ansor Karesidenan Kediri, merangkap Ketua PC GP Ansor Blitar.

5. Fatayat
Adalah nama salah satu Badan Otonom NU yang membina para pemudi. Fatayat NU artinya para pemudi NU. Didirikan pada tanggal 7 Rajab 1369 H / 24 April 1950. Namun perintisannya sudah dimulai sejak tahun 1940, oleh tiga serangkai wanita : Murtasiyah (Surabaya), Khuzaimah Mansur (Gresik), dan Aminah Mansur (Sidoarjo)

6. Muslimat
Adalah nama salah satu Badan Otonom NU yang beranggotakan kaum Ibu. Lahir pada saat Kongres NU ke-16 di Purwokerto (26 Rabiul Akhir 1465 / 29 Maret 1946) dengan nama Nahdlotoel Oelama Moeslimat, disingkat NOM (masih menggunakan ejaan lama). Saat itu Muslimat masih menjadi bagian NU, belum menjadi Banom sendiri. Barulah pada kongres NU ke-19 di Palembang (28 Mei 1952) NOM disahkan menjadi organisasi yang sendiri dan menjadi Banom Nu. Saat itulah namanya menjadi Muslimat NU.

7. IPNU dan IPPNU
IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) adalah salah satu Badan Otonom NU yang menangani pelajar, remaja dan santri. IPNU didirikan pada tanggal 20 Jumadil Akhir 1373 H/ 24 Pebruari 1954, ketika diselenggarakan Kongres LP Ma’arif di Semarang.

8. Lambang NU
Diciptakan oleh KH. Ridwan Abdullah, salah seorang A’wan (anggota) Syuriah PBNU periode Pertama, pada tahun 1926. Lambang itu ditemukan melalui mimpi setelah menjalankan shalat Istikharah (shalat untuk meminta petunjuk langsung dari Allah Swt.) sehingga diyakini lambang itu bukan sembarangan.
Lambang NU (setelah mengalami perbaikan-perbaikna) terdiri dari bumi dikelilingi tampar yang mengikat, untaian-untaian tampar berjumlah 99, lima bintang diatas bumi (yang tengah berukuran paling besar) dan empat bintang bumi. Terdapat tulisan Nahdlatul Ulama dalama huruf Arab melintang di tengah bumi dan dibawah bumi ada tulisan NU dalam tulisan latin.

9. Resolusi Jihad
Pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya erat kaitannya dengan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama yang diputuskan di kota yang sama. Resolusi itu dibuat pada tanggal 22 Oktober 1945 (18 hari menjelang perang besar-besaran meletus).
Sebelum menyampaikan resolusi bersejarah itu, terlebih dahulu diawali oleh fatwa Hadratus Syeikh K.H. M. Hasyim Asy’ari yang menyatakan antara lain :

1. Umat Islam wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak menjajah Indonesia

2. Melarang kaum muslimin Indonesia untuk melakukan perjalanan haji dengan kapal Belanda
Resolusi Jihad tersebut akhirnya mampu membangkitkan semangat arek-arek Surabaya untuk bertempur habis-habisan melawan penjajah. Dengan semangat takbir Allahu Akbar yang dikumandangkan Bung Tomo, maka terjadilah perang rakyat yang heroik pada 10 Nopember 1945 di Surabaya, yang kemudian dikenal dengan Hari Pahlawan.

10. Barzanji
Kitab Barzanji merupakan sebuah karya seni sastra berisi syair-syair ungkapan cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Mulai dari masa-masa sebelum kelahiran Nabi Saw, silsilah keturunan, kehidupan masa kanak-kanak, masa remaja, menjadi seorang pemuda, hingga diangkat menjadi Rasul. Juga menggambarkan sifat-sifat mulia Rasul, kepribadiannya yang agung, perjuangan menyebarkan agama Islam, dan lain sebagainya.

Kitab Barzanji ditulis oleh Syeikh Ja’far al Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. Lahir tahun 1690 M, dan meninggal 1766 Masehi di madinah. Nama Barzanji dinisbatkan pada nama daerah Barzinj yang sekarang masuk ke wilayah Kurdistan.

11. Diba’an
Selain Barzanji, ada juga budaya Diba’an. Kitab Diba’I dikarang oleh Syeikh Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad al- Syaibani al – Yamani al-Zabidi al- Syafi’i. Ia dikenal dengan dengan nama ad-Diba’i. Lahir di Yaman pada Muharram 866 M dan wafat hari jum’at tanggal 12 Rajab tahun 944 H.
Karena kitab yang dibawa itu bernama ad-Diba’o, lalu digampangkan lagi menjadi Diba’I atau Diba’an.

12. Haul
Disebut juga khol (mungkin karena salah kaprah dalam pengucapan). Adalah salah satu tradisi yang berkembang di kalangan Nahdliyyin (orang-orang NU). Berbentuk peringatan atas meninggalnya seseorang setiap tahun.
Acara haul seringkali diisi dengan tahlil dan pembacaan doa-doa lain secara bersama-sama, lalu selamatan dan membagikan shodaqoh. Kadang ditambah pula dengan ceramah agama dari para Kiai.

13. Hizib
Adalah rangkaian doa-doa khusus yang disusun oleh para ulama atau tabi’in dan memiliki keistimewan sendiri. Biasanya berisi shalawat, istighfar, potongan ayat-ayat Al Qur’an, doa-doa yang disusun oleh pengarangnya, dan lain sebagainya, yang dilakukan dengan cara tertentu, jumlah tertentu dan dalam kurun waktu tertentu pula.
Banyak ragam jenis hizib. Ada Hizb Nasar, Bahr, Ikhfa’, Ghazali, Jailani, Yamani, Autad, Khafi, Barqi, Nawawi, Hikmah dan masih banyak lagi yang lainnya. Seperti juga Hizb Sakran, yang dibaca oleh santri-santri Al Hikmah 2.

14. Khilafiyah
Adalah masalah-masalah fiqhiyah yang diperselisihkan (karena beda cara pandang setiap ulama) terhadap suatu hukum atau cara melakukannya. Khilafiyah bukanlah hal baru bagi NU. Karena perbedaan pendapat sejatinya sudah ada sejak dahulu. Diantar para imam Madzab (Syafi’I, Hambali, Hanafi, Maliki) seringkali berbeda pendapat. Begitu pula antara Imam Nawawi dan dan Imam Rafi’I, juga tak jarang berbeda pendapat.
Disinilah akan terlihat bahwa perbedaan adalah sebuah rahmat. Hadist Nabi menyebutkan Ikhtilafu ummati rahmatun (perbedaan umatku adalah sebuah rahmat).

15. Madzhab
Madzhab artinya jalan yang ditempuh untuk mencapi tujuan dalam masalah keagamaan. Warga Nahdliyin dikenal sebagai kaum yang bermadzhab, yaitu penganut salah satu Imam empat (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’I dan Imam Hambali)

Madzhab mengandung dua unsur :
1. Unsur “Manhaj” artinya pola, metode dan kumpulan kaidah-kaidah berijtihad yang sudah mapan dan mantap
2. Unsur “Ijtihad” yang dilakukan oleh para mujtahid, berwujud qaul (pendapat)

16. Manaqib
Arti manaqib adalah sifat yang baik, etika dan moral. Kitab Manaqib yang umum dibaca antara lain adalah Manaqib Syeikh Abdul Qadil Al Jilani. Syeikh Abdul Qadir adalah tokoh sentral ajaran thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah yang banyak pengikutnya di Indonesia. Ia Lahir di daerah Jilan (Golan) Iran, (471 H – 561 H). Ritual pembacaan manaqib itu biasa dikenal dengan nama manaqiban.

17. Rukyat
Adalah melihat hilal (bulan) tanggal pertama, guna menetapkan tanggal 1 bulan Ramadhan atau tanggal 1 Syawal. Artinya penetapan awal bulan didasarkan pada ada atau tidak adanya hilal yang bisa dilihat, baik secara langsung maupun dengan alat bantu. Pelaksanaan rukyat adalah disaat matahari tenggelam di ufuk barat, sedangkan lokasi pelaksanaan rukyat biasanya di pantai atau ditengah lautan.

18. Shalawat Badar
Shalawat Badar yang biasanya dibaca itu ternyata adalah gubahan Kiai Indonesia. Beliau adalah Kiai Ali Mansur, salah seorang cucu dari K.H Muhammad Siddiq Jember, Shalawat ini berisi pujian-pujian kepada Rasulullah Saw, dan Ahli Badar (Para shahabat yang mati syahid dalam perang Badar). Berbentuk Syair dan dinyanyikan dengan lagu yang khas.
“Sholatullah Salamullah ‘Ala Thoha Rasulillah”


Dari sumber NU 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

>>>>Salju Kunig